Artikel ini dibuat berdasarkan video YouTube Ridwan Hanif yang menguji performa Wuling Air EV di tanjakan Cinomati.
Kesimpulan Singkat:
Ridwan Hanif menguji Wuling Air EV Lite menaklukkan tanjakan ekstrem Cinomati dengan empat penumpang dan rute yang penuh tantangan. Meski tenaganya sempat drop, Air EV tetap berhasil naik.
Mulai Dari Setup yang Bikin Deg-degan
Ridwan membuka video dengan persiapan yang sebenarnya sudah bikin penasaran. Air EV Lite dibawa dari kondisi baterai sekitar 78%, lalu langsung dinaiki empat orang laki-laki berbadan besar. Total beban hampir 400 kg.
Mode berkendara langsung dipasang ke Sport, karena tanjakannya terkenal brutal. Dashcam BlackVue ikut dipasang untuk dokumentasi, sekaligus menghindari drama kalau ada apa-apa.
Poin penting yang dia sebutkan sejak awal:
-
Air EV itu kecil.
-
Tenaganya juga nggak segede EV kelas menengah.
-
Bebannya berat.
-
Tanjakan Cinomati itu nggak main-main.
Jadi wajar kalau banyak yang penasaran: “Ini mobil kuat nggak sih?”
Tanjakan Cinomati: Medan yang Bukan Untuk Kaleng-kaleng
Begitu masuk area Cinomati, pengingat “tanjakan ekstrem” langsung muncul. Yang sering lewat sini pasti tahu karakter jalurnya:
-
Sudut tanjakan super curam.
-
Banyak lubang serta permukaan nggak rata.
-
Momentum itu segalanya. Salah sedikit, mobil bisa kehabisan tenaga.
Ridwan sebelumnya pernah lewat sini pakai Hyundai Ioniq 5—dan itu pun sudah cukup menegangkan. Kali ini, Air EV diuji di skenario yang lebih berat.
Performa Air EV Saat Menanjak
Begitu pedal diinjak, tenaga Air EV pelan-pelan terasa bekerja keras. Di tanjakan paling curam:
-
Kecepatan turun sampai 18–20 km/jam.
-
Mobil mulai terdengar “ngos-ngosan”.
-
Begitu momentum hilang, mobil butuh injakan pedal lebih dalam untuk bangkit lagi.
Tim sempat beberapa kali deg-degan karena grafik tenaga terlihat drop, tapi Air EV tetap maju—pelan, tapi pasti.
Kesimpulan sementara dari Ridwan:
“Kalau sendiri mungkin lebih enteng. Tapi dengan empat orang, ya beginilah perjuangannya.”
Tetap lewat sih. Nggak mogok. Itu yang penting.
Konsumsi Baterai di Kondisi Berat
Perjalanan naik dari awal sampai puncak menghabiskan baterai dari 77% ke 59%.
Artinya:
-
Turun sekitar 17–18%.
-
Tanpa AC mati-matian.
-
Dengan beban penuh.
Tanjakan panjang memang bikin motor listrik terus-terusan keluarkan torsi maksimal, jadi wajar konsumsi baterainya lebih boros dari pemakaian normal.
Turunan: Regeneratif Ada, Tapi Tidak Menambah Persen Baterai
Saat turun, Ridwan mengatur:
-
Mode Eco
-
Regenerative Braking ke Strong
Secara teori, ini bisa mengembalikan energi ke baterai. Tapi kenyataannya, di Air EV:
-
Regen masuk (kW terlihat naik),
-
Namun persen baterai tidak bertambah.
Di bagian ini Ridwan membandingkan dengan Ioniq 5:
“Kalau Ioniq tuh bisa nambah baterai. Air EV nggak.”
Selain itu, rem Air EV terasa cukup sensitif. Harus dibiasakan supaya nggak kaget, terutama saat turunan panjang yang berkelok-kelok.
Ban Kecil = Decit, Tapi Stabil
Air EV punya ban kecil dan tapaknya sempit. Waktu belok di jalan menanjak atau turunan curam, terdengar bunyi decit.
Ini normal karena:
-
Permukaan jalan kasar,
-
Bannya kecil,
-
Mobil dipaksa kerja keras.
Yang menarik, rem belakang Air EV sudah cakram, bukan tromol. Ini membantu pelepasan panas lebih baik—penting untuk rute turunan panjang seperti ini.
Jalur Alternatif Menuju Obelix Hills: Lebih Ekstrem Dari Cinomati
Setelah berhasil melewati Cinomati, rombongan justru melewati jalur belakang menuju Obelix Hills — dan ternyata tanjakannya lebih curam dari Cinomati.
Jalurnya:
-
Kiri-kanan beton,
-
Tengahnya tanah rumput,
-
Banyak bagian yang tidak rata.
Bahkan truk pasir saja harus ambil ancang-ancang untuk naik.
Air EV? Masih sanggup. Tenaganya terasa berat, tapi tetap berhasil melintasi semuanya.
Pengalaman Ngecas di Lokasi Wisata
Sesampainya di Obelix Hills, baterai tersisa 37%. Ridwan meminta izin ke pengelola untuk numpang ngecas, dan ternyata diperbolehkan.
Catatan dari Ridwan:
-
Pakai kabel colokan yang tebal supaya aman.
-
Air EV memang bisa dicas di mana saja selama ada izin dan daya cukup.
Ini sesuai klaim Wuling: “Bisa dicas di mana pun selama ada sumber listrik.”
Kesimpulan
Walaupun Wuling Air EV dikenal sebagai mobil kota, pengujian Ridwan di Cinomati membuktikan kalau mobil kecil ini ternyata nggak selemah yang banyak orang kira.
Ringkasannya:
-
Bisa menaklukkan tanjakan ekstrem Cinomati, bahkan dengan empat penumpang berbadan besar.
-
Baterai memang terkuras lebih banyak, tapi masih wajar untuk kondisi berat.
-
Rem cukup sensitif, tetapi tetap aman digunakan di turunan panjang.
-
Regenerative braking tidak menambah SOC, tapi membantu mengontrol kecepatan.
-
Untuk pemakaian kota, Air EV tetap yang paling nyaman. Untuk pegunungan? Bisa, asal tahu batasannya.
Secara keseluruhan, video ini menunjukkan sisi lain Air EV: kompak, hemat energi, tapi tetap sanggup menghadapi rute berat kalau kondisi mengharuskan.